Surabaya – (04/05/2019). Program Studi Administrasi Publik berkesempatan menggelar Acara Sarasehan Bersama antara Mahasiswa Administrasi Publik dan Taruna/i Akademi Angkatan Laut (AAL) bertempat di Auditorium Mandalika, Akademi Angkatan Laut (AAL) yang berada di Jl. Moro Krembangan, Krembangan, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Sarasehan kali ini bertema “Digital Leadership Di Era Milenialâ€. Dengan mengangkat tema tersebut diharapkan agar mahasiswa/mahasiswi serta taruna/taruni dapat berpikir kritis terhadap permasalahan krisis kepemimpinan digital. Turut hadir dalam acara tersebut kurang lebih 60 (enam puluh) mahasiswa angkatan 2017 Administrasi Publik yang didampingi oleh Drs. H. Hindrajit M.Si. dan Prof. Dr. Moeheriono, Drs. M.Si. selaku dosen mata kuliah kepemimpinan serta Wildan Taufik Raharja, S.IAN., M.PSDM, selaku Sekretaris Program Studi serta 30 (tiga puluh) Taruna/taruni AAL Tingkat II yang didampingi Kadepiptek Kolonel Laut (P) Dr. Isworo Sutristyanto, S.H. M.A.P.

Sarasehan Bersama ini membahas tiga topik, 2 (dua) topik disampaikan oleh mahasiswa Administrasi Publik dan 1 (satu) topik bagi Taruna/i AAL serta dilanjutkan dengan diskusi bersama. Pemaparan pertama disampaikan oleh Galih Putra mahasiswa Administrasi Publik bertajuk “Kepemimpinan Yang Efisien di Era Milenial Digitalâ€.
Di awal paparan, Galih berpendapat bahwa Zaman yang terus berubah, menuntut manusia untuk menyesuaikan dengan segala perubahannya. Maraknya teknologi yang menawarkan artificial intelligent, seperti robot pintar dan berbagai macam aplikasi di smartphone, justru mengancam eksistensi manusia itu sendiri.

“Sikap malas, manja, egois, dan perilaku serba instan merupakan beberapa sikap negatif yang melekat pada mayoritas manusia milenial. Dengan banyaknya perusahaan yang saat ini para pekerjanya berasal dari generasi milenial, tak heran jika banyak perusahaan yang mulai berfokus terhadap kinerja generasi milenial.†Ujar Galih mahasiswa kelahiran Surabaya ini.
Galih juga menambahkan, dibutuhkan karakter kepemimpinan yang mampu mereduksi sikap negatif di atas dan mampu mengeluarkan semua potensi positif dari kaum milenial seperti melek teknologi, haus ilmu pengetahuan, dan publikasi.
“Terdapat 6 (enam) karakter kepemimpinan yang dibutuhkan di masa milenial saat ini yakni sebagai berikut : Digital Mindset, Observer dan Active Listener Agile, Inclusive, Brave to be Different, Unbeatable (pantang menyerah).†Tambah Galih sebagai closing Statement.
Pemateri kedua dari Taruna dan taruni AAL yang membahas mengenai “ Adaptasi Pemimpin Pembelajar, Abad Millenial Aspirasi Masa Depanâ€. Dalam Kajian ini, Para Taruna yang diwakili oleh Sertar (P) Marfi, Sertar (T) Aditya, Sertar (T) Muhammad Axl dan Sertar (E) Fitria menyimpulkan Seorang pemimpin milenial memiliki kualitas memimpin yang masa kini , dimana pemimpin ini dapat berkomunikasi dengan baik dengan anggotanya dan selalu update akan masalah dan kemajuan anggotannya , pemimpin milenial juga dapat berinovasi atau berkreatifas tinggi sehingga dapat memunculkan ide ide atau gagasan-gagasan baru untuk memajukan kinerja anggotannya, kepercayaan diri seorang pemimpin juga sangat dibutuhkan karena kepercayaan diri seorang pimimpin itu akan menular kepada anak buahnya Dengan berasaskan “melek akan teknologi†sehingga pemimpin milenial selalu memberi contoh dalam melakukan suatu kinerja modern.

Tampil sebagai pemateri terakhir, Nikmatus Sholikhah Mahasiswi Prodi Administrasi Publik mengenai “Tantangan, Inovasi Dan Kolaborasi Dalam Mewujudkan Digital Leadership Di Sektor Publik. Mahasiswi kelahiran Ponorogo ini mengulas tentang bagaimana Tantangan dalam mewujudkan digital leadership salah satunya adalah generasi X yang saat ini sebagian besar menguasai kepemimpinan sehingga generasi X harus mengembangkan pengetahuannya tentang teknologi supaya beriringan dengan revolusi industri 4.0.

“…selain itu tantangan untuk mengembangkan kualitas SDM yaitu mempersiapkan karyawan yang memadai. Dalam hal ini pentingnya sebuah kolaboratif yang dimana hal ini dilakukan oleh pemerintah untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0. seperti fenomena internet of things dalam Revolusi Industri 4.0 yang menyediakan peluang besar dalam mendukung dan memudahkan kolaborasi.†Ujar Nikmah.
Nikmah Juga menambahkan Adanya tantangan yang harus diantisipasi pemerintah untuk mewujudkan kolaborasi yang efektif. Dalam Revolusi Industri 4.0 generasi Z atau kaum milenial sangat mempunyai peranan penting dalam industri 4.0 sehingga perlu memberikan pembekalan pendidikan formal, non-formal dan informal yang relevan.

Dalam sesi akhir pemaparan, Nikma menyimpulkan bahwa Kepemimpinan pada Generasi Z dengan E-Leadership berkarakteristik kepemimpinan transformasional yaitu pemimpin yang memberikan pertimbangan dan rangsangan intelektual yang diindividualkan dan memiliki kharisma. Serta kepemimpinan yang melayani (Servant Leader), yaitu lebih mengutamakan kebutuhan, kebutuhan dan inspirasi orang-orang. Hubungan antara pemimpin dengan pengikut berorientasi pada sifat melayani dengan strandar moral spiritual.

Kegiatan Sarahsehan ini selain menjadi salah satu output dari Mata Kuliah kepemimpinan juga membangun relasi antara mahasiswa Administrasi Publik UHT dengan Taruna/Taruni AAL. Bukan hanya itu, kegiatan Sarasehan Bersama ini bukan pertama kalinya dilaksanakan oleh Mahasiswa Administrasi Publik angaktan 2017, namun juga telah diadakan kegiatan yang sama dengan topic pembahasan yang berbeda ditahun tahun sebelumnya.
Penulis : Nikmatus Sholikhah
Editor : Dewantara
Sinergi Dalam Acara Sarasehan Bersama Bertajuk: Kepemimpinan 4.0.
