
Jumat, (22/03/2019). Peningkatan kompetensi para mahasiswa dalam berargumen serta berdiskusi mewajibkan Prodi Administrasi Publik untuk selalu berinovasi dalam hal pembelajaran bagi para mahasiswa. Public Sphere terpilih menjadi salah satu dari beberapa metode pembelajaran berbasis pada kasus yang perlu didiskusikan. Kegiatan ini terintegrasi dengan Himpunan Mahasiswa Administrasi publik untuk melatih kepekaan bagi para mahasiswa terhadap masalah – masalah kemasyarakatan yang diadakan di Ruang 3201 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hang Tuah Surabaya.

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Kegiatan M. Nizam Rashidi menuturkan bahwa peserta yang terlibat dalam acara Public Sphere terdiri dari kurang lebih 120 mahasiswa dan terbagi atas kelompok kelompok yang telah ditentukan. “Harapannya Public Sphere ke depan membawa isu isu terkini sehingga mahasiswa dapat dibekali cara bagaimana mereka berargumen dalam diskusi diskusi publik.â€ungkap Nizam.
M. Husni Tamrin selaku dosen Prodi Administrasi Publik memberikan pernyataan bahwa konsep Public Sphere lahir dari seorang pemikir sosial yaitu Jürgen Habermas. “Menurut Habermas, Public Sphere dikonsepsionalisasikan sebagai suatu realitas kehidupan sosial di mana terdapat suatu proses pertukaran informasi mengenai berbagai pandangan berkenaan dengan pokok persoalan yang tengah menjadi perbincangan umum hingga terciptalah pendapat umum. Maka dari itu Public Sphere untuk para mahasiswa juga sangat dibutuhkan.†Ujar Husni dalam sesi pembukaan acara.
 
 
Fenomena Money Politic Absolut Campaign Ditahun Politik 2019 dipilih oleh para mahasiswa dan Prodi untuk menjadi bahan diskusi dalam acara ini dan memberikan kepercayaan sebagai penganggung jawab acara adalah Agus Wahyudi, S.IP., M.IP.
Agus Wahyudi menuturkan bahwa Kecendrungan terjadinya praktek money politic dalam pemilu di Indonesia saat ini cenderung meningkat. Beberapa media online mengungkap hal ini. Bahwa praktek politik uang di Indonesia memang meningkat dari Pemilu ke Pemilu. Â Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.
“Salah satu faktor nya adalah adanya ‘kejenuhan’ masyarakat terhadap kondisi sosial ekonomi yang dihadapinya. Dari Pemilu ke Pemilu, taraf kehidupan masyarakat tidak berubah. Dari ganti anggota legislative satu ke anggota legislative yang lain, kondisi kehidupan ekonomi dirinya dan keluarganya tidak berubah.†Ujar Dosen Ilmu Politik pada sesi penyampaian materi.
Pola pikir masyarakat menjadi sangat pragmatif, artinya siapa yang menguntungkan bagi dirinya, maka dialah yang akan dia pilih. Ada konteks rasional ekonomi dalam diri masyarakat pada saat ini. Siapa yang memberikan kontribusi secara ekonomi secara langsung, maka dialah yang akan dipilih. Jadi menurut saya, masyarakat saat ini menjadi sangat pragmatis karena dia sangat rasional secara ekonomi. Apa yang ada dihadapannya, itulah yang harus dia rebut dan dapatkan, termasuk uang-uang politik dalam konteks Pemilu di Indonesia
 
“Maka secara sederhana, masyarakat akan berpikir dari pada ndak ada perubahan sama sekali, mending memilih calon anggota legislative  yang memberikan sesuatu kepada dirinya.†tambah  Agus.
Penulis : Agus Wahyudi
Editor : Dewantara
