Character Building Training: Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Belajar Dari Gusdurian

Salah satu aspek di dalam diri manusia yang mempengaruhi kuat/lemahnya determinasi dirinya, yaitu: perkembangan spiritualitas (bedakan dengan religiusitas). Bukan sebuah kebetulan jika nilai pertama dalam 9 (sembilan) nilai utama Gus Dur adalah nilai “Ketauhidan”. Bagi para sahabat Gus Dur yang turut merumuskan dan/atau menyempurnakan 9 nilai utama Gus Dur tersebut, mereka menyaksikan sekaligus meyakini, bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh Gus Dur tidak pernah lepas dari praktik-praktik spiritual yang dijalankannya sepanjang hayat. Dengan landasan spiritual itulah, langkah-langkah strategis maupun praktis yang diambil oleh Gus Dur selalu mempertimbangkan aspek penting kedua: standar moralitas. Nilai “kemanusiaan” menjadi acuan utama Gus Dur dalam menerapkan standar moralitas tersebut. Nilai kemanusian itu pula yang kemudian dirumuskan sebagai nilai kedua dalam 9 nilai utama Gus Dur; karena tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Gus Dur juga tidak pernah lepas dari besarnya rasa kemanusiaan dalam memaknai fenomena-fenomema sosial yang terjadi di sekitarnya.

Dalam setiap agama/aliran kepercayaan pun terdapat ajaran yang memberikan pemahaman tentang pentingnya menjalin hubungan yang penuh cinta kasih, baik kepada Tuhan maupun sesama ciptaan (termasuk namun tidak terbatas pada, sesama manusia). Misalnya, dalam ajaran agama Islam dikenal ayat yang berbunyi “hablum minallah wa hablum minannas”; sedangkan, dalam ajaran agama Kristen/Katolik dikenal sebuah hukum yang menyebutkan: “Kasihilah Tuhan, Allah-mu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu; Dan, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”—dinamakan Hukum Kasih. Prinsip ajaran tersebut agaknya juga menginspirasi para tokoh nasional Indonesia yang turut merumuskan Pancasila; sehingga, 2 (dua) sila yang dituliskan pada urutan awal, yaitu: KeTuhanan yang Maha Esa (sila pertama), dan Kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua).

Apabila setiap insan Nusantara bisa mengamalkan keduanya saja, niscaya yang kita pilih sebagai pemenang dari perseteruan psikis (konflik batiniah) di atas, yaitu “hati nurani”. Dan, kekalahan lawannya—hawa nafsu—menandakan bahwa Bangsa Indonesia semakin matang untuk menjadi “negara pembawa damai”. Secara umum, pelatihan ini hendak menjadi salah satu alternatif metode untuk menguatkan “hati nurani”. Dan, secara spesifik, pelatihan dimaksudkan untuk:

  • Mengajak peserta untuk berpikir kritis terhadap fenomena-fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya;
  • Memperkenalkan kemajemukan yang dimiliki Bangsa Indonesia lewat perjumpaan langsung dengan para penganutnya;
  • Menyegarkan kembali gagasan politik kebangsaan yang belakangan ini tergantikan oleh politik kekuasaan dan politik identitas;
  • Mendorong peserta untuk melakukan gerakan-gerakan sosial yang mengkampanyekan semangat perdamaian dan/atau aspek-aspek yang meliputinya;
  • Mengkonsolidasikan sumber daya yang dimiliki peserta dalam gerakan-gerakan sosial yang sedang/akan dilakukan.
  • Membentuk karakter Pancasilais dalam diri peserta melalui aksi nyata sebagai anak muda/ mahasiswa dalam lingkungan keluarga, kampus dan masyarakat pada umumnya.

Adapun peserta pelatihan ini adalah Mahasiswa semester 1 yang mengikuti Matakuliah Pendidikan Pancasila pada Program Studi Administrasi Publik di Universitas Hang Tuah Surabaya sebanyak 59 orang mahasiswa . sedangkan pelatihan ini diadakan pada Hari/tanggal : Kamis, 10 Januari 2019 – Sabtu, 12 Januari 2019 di FISIP Gedung P.Bras Universitas Hang Tuah. Metode pelatihan ini menggabungkan proses belajar di dalam ruangan (indoor) dan luar ruangan (outdoor), dengan 5 (lima) metode utama, antara lain: Lecturing Class (LC), Focus Group Discussion (FGD), Role-Play/Simulation (RP/S), Field Trip (FT), dan Sharing Session (SS).  kemudan Setiap sesi pelatihan akan dipandu oleh para pemateri dan fasilitator yang tergabung dalam Jaringan Gusdurian (JGD), baik pada tingkat nasional, regional (Jawa Timur), maupun lokal (Kota Surabaya). Beberapa alternatif nama pemateri/fasilitator tersebut, antara lain:

  • A’ak Abdullah Al Kudus (Presidium JGD Regional Jawa bagian Timur)
  • Yuska Harimurti (Presidium JGD Regional Jawa bagian Timur)
  • Wahyuni Widyaningsih (Presidium JGD Regional Jawa bagian Timur)
  • Hakim Jayli (Direktur TV 9 Nusantara)
  • Ahmad Zainul Hamdi (Direktur CMARs Surabaya)
  • Wachid Habibullah, S.H., M.H. (Direktur LBH Surabaya)
  • Rovien Aryunia (Presidium Nasional Mafindo)
  • Yovinus Guntur Wicaksono (Koordinator Tim Advokasi AJI Surabaya)
  • Simon Filantropa (Ketua PGI Jawa Timur)
  • Fransiska Abigail Susana, D.Th. (Pengurus Pusat GPPS)
  • Andri Purnawan (GKI Sinode Wilayah Jawa Timur)
  • Hardiyan Triasmoroadi (Pendeta Jemaat GKJW Sukolilo)
  • Aloysius Widyawan (Keuskupan Surabaya)
  • Haris Teguh Nuning Febriyanti (Sekjen Gerdu Suroboyo)
  • Wahyu Eka Setyawan (Sekjen WALHI Jawa Timur)
  • Patrick Humbertus (Sekjen Prajurit Pelangi)
  • Harun Rosyid (Penggerak Gerdu Suroboyo)
  • Adi Sujatmika Tjiong (Penggerak Gerdu Suroboyo)
  • Achmad Roni (Penggerak Gerdu Suroboyo)
  • Mizan Asrori (Penggerak Gerdu Suroboyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.